Petang di Hari Raya
Lorong terasa lenggang dan sejuk. Setengah gelas kopi panas pahit menuntaskan manisnya dua potong donat. Anak perempuan saya yang berumur 3 tahun tiba2 ingin Jco, seperti hafal bahwa disudut itu ada pasti ada donat.. — uhh, selera anak-anak. Seperti biasa satu donat tidak habis. Bersama istri dan anak saya yang sulung dia pergi lagi membeli takoyaki, di ujung lorong yang satunya.
Meninggalkan sepotong donat yang belum habis dan setengah gelas kopi. Dua seperempat donat menjadi porsiku petang ini.
Menghirup kopi pahit dengan ujung lidah terbalut manis, sejenak kelenggangan yang tidak biasa ini memberikan kesan yang nyaman. Udara Bandung petang ini memang nyaman, dengan sedikit gerimis. Kenyamanan yang hanya didapat dari privasi disaat dan tempat yang tepat. Di mall, privasi kadang menjadi sebuah barang mewah. Mall tempat manusia 'to see and to be seen', bukanlah tempat terbaik sebuah privasi. Tapi di petang hari raya ini, kemewahan itu muncul. Ini bukanlah hal seperti hikmah hari raya atau semacamnya, tetapi di setiap waktu, ada saat-saat mensyukuri hal-hal yang jarang dijumpai. Terlebih saat hari raya seperti petang hari ini. Ah, anakku tentu telah menungguku. Terimakasih Tuhan atas hari raya ini -bagi mereka yang merayakannya-, donat dan kopi, petang yang sejuk dan nyaman, tempat yang tepat, dan keluarga yang riang.
Bandung 1.10.08